Sekilas Pecatu
Orang lebih mengenal Pura Uluwatu daripada Desa Pecatu, Pura diujung selatan kaki Pulau Bali itu bergitu tersohor sebagai salah satu daya tarik wisata unggulan di Bali. Di berbagai buku,majalah dan brosur pariwisata Bali kerap kali terpampang foto Pura Uluwatu yang berdiri menjulang dengan latar belakang hamparan laut berwarna kuning kemerahan. Pura Uluwatu telah menjadi ikon pariwisata Bali. Di dunia maya, Pura Luhur Uluwatu jauh lebih populer dibandingkan Desa Pecatu. Di mesin pencari terbesar didunia Google kata kunci dengan entri “Pecatu” hanya tercatat 1.260.000 halaman, sedangkan kata kunci dengan entri “Uluwatu” tercatat di 3.710.999 halaman.
Padahal Pura Uluwatu terletak di Desa Pecatu,Kecamatan Kuta,Kabupaten Badung. Warga Desa Adat Pecatu yang menjadi pendukung utama kegiatan perawatan maupun ritual keagamaan di Pura Uluwatu. Warga Pecatu pula yang mengemban tanggung jawab pertama dan terutama dalam menjaga keajegan dan kesucian Pura Uluwatu hingga bisa terus menebarkan pesona yang mampu menarik minat wisatawan. Walaupun menjadi tempat berdirinya salah satu obyek wisata andalan di Pulau Bali, kenyataannya Desa Pecatu memang baru mengalami pertumbuhan pesat pada sekitar dua dasa warsa terakhir. Sejak tahun 1990-an barulah Pecatu mulai mencicipi manisnya buah industri pariwisata.
Tanah “Paica” Raja
Jika ditelusuri sejarahnya, Pecatu merupakan salah satu desa kuno. Hal ini dibuktikan dari berdirinya Pura Luhur Uluwatu yang menyimpan peninggalan kuno dengan nilai sejarah yang tinggi. Sejaran desa Pecatu dapat dilacak pada lontar Usana Pararaton edisi II, sebagaimana dikutip dalam Eka Ilkita Desa Adat Pecatu. Dalam lontar itu disebutkan bahwa pada tahun 1115 hingga 1130 Masehi, Prabu Kameswara bertahta sebagai raja pertama di Kediri yang memluk agama Hindu. Salah seorang putranya, Sri Wira Dhalem Kesari menjadi raja di Bali. Sri Wira Dalem Kesari bertempat tinggal di lereng Gunung Agung,Desa Besakih pada sekitar tahun 1135.
Sri Wira Dhalem Kesari juga menganut agama Wisnu seperti sang Ayah. Kendati begitu, penganut agama-agama lainnya seperti Brahma, Siwa, Budha dan lainnya tetap bisa hidup rukun di Bali. Sebagai penganut ajaran Wisnu yang taat, Sri Wira Dhalem Kesari membangun kahyangan (tempat suci) untuk memuja kebesaran Tuhan. Kahyangan yang dibangun kala itu ada delapan, sebagai berikut:
- Pemrajan Selonding, tempat memuja Hyang Brahma, Wisnu, Iswara
- Pura Penataran Agung, tempat pemujaan Batara Catur Muka Sadam Pati
- Pura Lempuyang, tempat pemujaan Batara Geni Jaya
- Pura Batukaru, tempat pemujaan Batara Mahadewa
- Pura Hulu Watu, tempat pemujaan Batara Mahajaya
- Pura Kiduling Kereteg tempat pemujaan Batara Brahma
- Pura Watumadeg, tempat pemujaan Batara Wisnu
- Pura Gelap, tempat pemujaan Batara Iswara
Selain pura-pura tersebut, masih ada lagi sjumlah pura penting lainnya di Bali yang dibangun Sri Wira Dhalem Kesari. Jumlah Kahyangan yang dibangun Sri Wira Dhalem Kesari sekitar 17 buah. Dikawasan Bukit sebagai kaki pulau Bali dibangun sebuah bangunan candi sebagai tempat Sri Dhalem Kesari memuja leluhurnya. Candi tersebut dinamai Prasada Hulu Atu. Hulu berarti prabu atau raja sedangkan atu berarti sinuhun. Dengan begitu, Hulu Atu merupakan sthana Batara Mahajaya yang kekuasaannya sangat besar.
Bentu candi Hulu Atu sama dengan candi-candi yang ada di Jawa Timur. Candi tersebut berdaun pintu empat yang disebut Catur Duara sebagai Dewa Catur Muka yang berkuasa terhadap empat penjuru mata angin yaitu: timur, selatan, barat dan utara.
Untuk mendukung pemeliharaan dan pelaksanaan aci di Pura Hulu Watu, Raja Warmadewa kemudian memberikan tanah yang ada di wilayah bukit sebagai tanah bukti. Hasil dari pengelolaan tanah-tanah tersebutlah yang digunakan untuk melasanakan upacara serta biaya memperbaiki pura di kala mengalami kerusakan.
Yang diberikan sebagai penggarap tanah-tanah bukit itu adalah masyarakat “Wetbet Bali Mulia yang ditempatkan secara khusus di Bukit. Karena merupakan tanah pemberian atau paica dari raja, tanah tersebut pun dinamai pecatu. Orang-orang yang menggarapnya kemudian dikenal sebagai wong pecatu (orang yang menggarap tanah pemberian raja). Makin lama jumlah penduduk yang menempati tanah Pecatu itu kian banyak saja. Tempat pemberian raja itu oun berkembang menjadi sebuah desa, desa baru inilah yang kemudian diberi nama Desa Pecatu.
Tiga Banjar, 19 Tempekan
Desa Adat Pecatu tergolong sebagai desa di Kecamatan Kuta Selatan yang wilayahnya cukup luas dan jumlah penduduk yang besar. Luas wilayah Pecatu mencapai 2.642 hektar. Desa Adat Pecatu berbatasan dengan Desa Adat Jimbaran di sebelah utara, Desa Adat Ungasan di sebelah timur, sementara disisi selatan dan barat terhampar Samudera Indonesia yang membentang indah.
Desa Adat Pecatu terdiri atas tiga banjar yakni Banjar Kangin, Banjar Tengah dan Banjar Kauh. Masing-masing banjar didukung oleh sejumlah tempekan. Di banjar Kangin ada enam tempekan yaitu Tempekan Tambyak, Tempekan Bangbang Kembar, Tempekan Selonding, Tempekan Pagpagan, Tempekan Giri Sari serta Tempekan Langlangambu. Di Banjar Tengah terdapat enam tempekan yakni Tempekan Ana, Tempekan Puluk-puluk, Tempekan Temu, Tempekan Bus Tegeh, Tempekan Song Bintang serta Tempekan Kulat. Di Banjar Kauh terdapat tujuh tempekan yaitu: Tempekan Dauh Puseh, Tempekan Pande, Tempekan Kesambi Kembar, Tempekan Bangket Kangin, Tempekan Bingin, Tempekan Umpeng serta Tempekan Labuhan Sait.
Selain tempekan, ketiga banjar itu memiliki tiga banjar dinas. Banjar Kangin memiliki Banjar Dinas Kangin, Banjar Dinas Tambyak serta Banjar Dinas Giri Sari. Banjar Adat Tengah memiliki Banjar Dinas Tengah, Banjar Dinas Karang Boma, Banjar Dinas Suluban. Sementara Banjar Adat Kauh memiliki tiga banjar dinas yakni Banjar Dinas Buwana Sari, Banjar Dinas Labuhan Sait dan Banjar Dinas Kauh.
Seperti lazimnya desa adat atau desa pakraman yang lainnya, Desa Adat Pecatu memiliki kahyangan tiga yaitu meliputi Pura Desa Lan Bale Agung, Pura Puseh serta Pura Dalem dan Pura Prajapati. Selain Kahyangan tiga di Desa Adat Pecatu juga bediri sejumlah pura. Ada sebuah pura sad kahyangan yakni Pura Luhur Uluwatu. Krama desa Adat Pecatu sebagai pengamong pura, sedangkan selaku pengempon yakni Pura Jero Kuta Denpasar dan Puri Jambi Merik Celagigendong Denpasar. Ada juga pura prasanak Pura Uluwatu yakni Pura Pererepan, Pura Selonding, Pura Kulat, Pura Batu Matandal serta Pura Dalem Pengeleburan.
Selain itu, terdapat juga sejumlah pura yang berkaitan erat dengan perjalanan suci Dahyang Nirartha yakni Pura Kula, Pura Pengleburan, Pura Puser Sari, Pura Beji/Pura Ulun Danu. Ada juga pura-pura yang di among oleh krama desa Adat Pecatu secara sendiri-sendiri seperti Pura Pucak Wisesa, Pura Pucak Karang Boma, Pura Beji Song Bintang, Pura Batu Dihi, serta Pura Karang Tengah / Pura Batu Jaran.
Desa adat Pecatu juga mewarisi sejumlah kesenian, ada tari wali berupa Sang Hyang Jaran yang terdapat di Pura Karang Tengah. Tari wali lainnya yakni Rejang Dewa, Baris Gede dan Legong Keraton. Selain tari wali ada juga tetabuhan wali serperti Gong Gede, Gong Beleganjur, Angklung, Gender, Batel, Geguntangan serta Sekaa Kecak Karang Boma dan Labuhan Sait.
Dari Bukit Kapur ke Bukit Dolar
Sebelumnya, Pecatu masih kuat dengan citra sebagai desa gersang dan kerontang. Memang Pecatu merupakan daerah perbukitan yang mengandung batu-batu karang. Keadaan tanahnya merupakan tanah liat atau mediteranian merah yang mengandung zat kapur. Oleh karena itu,Pecatu biasanya dikenal dengan sebutan Bukit Kapur.
Umumnya penduduk Pecatu merupakan petani lahan kering serta peternak yang mencapai sekitar 70%. Sekitar 10% warga Pecatu menekuni pekerjaan di sektor pertukangan/pengrajin. Sisanya sebagai pedagang, pegawai negeri sipil (PNS)/TNI/POLRI, karyawan swasta, nelayan serta di bidang jasa lainnya.
Hingga awal tahun 1980-an, masyarakat Pecatu masih dihimpit masalah klasik, yakni air bersih. Betapa sulitnya mendapatkan air di Pecatu. Keterbatasan itu menyebabkan masyarakat Pecatu sangat tergantung kepada air hujan, baik untuk kepentingan bertani ataupun kebutuhan rumah tangga. Itu sebabnya sampai tahun 1990-an belum banyak yang percaya desa diujung kaki Bali ini akan menjadi desa maju. Bahkan warga Pecatu masih ingat bagaimana sejumlah orang luar Pecatu yang menolak diberikan lahan di Pecatu secara cuma-Cuma. Pernah terjadi seorang penyuluh pertanian dari Tabanan yang bertugas di Pecatu menolak diberikan lahan perkebunan secara Cuma-Cuma oleh warga Pecatu. Penyebabnya tiada lain kondisi tanah yang kering serta sulit memperoleh air.
Kini Pecatu melaju sebagai desa yang berkembang pesat karena pariwisata. Daya tarik wisata di Pecatu kini tidak hanya Pura Uluwatu tetapi sudah bermunculan sejumlah daya tarik wisata baru seperti Pantai Dreamland serta Pantai Padang-padang. Keberadaan pantai yang beradu dengan tebing-tebing kokoh ternyata menjadi daya tarik luar biasa Pecatu.
Fasilitas akomodasi wisata maupun sarana pendukung pariwisata lainnya kini terus bermunculan di Pecatu. Selain hotel-hotel berbintang, di Pecatu juga tumbuh vila-vila yang dikelola warga setempat. Perkembangan ini tak pelak mendongkrak harga lahan maupun properti di Pecatu. Hingga akhir tahun 2013, harga tanah per are di Pecatu sudah mencapai Rp300.000.000 – Rp500.000.000. Kondisi ini tentu saja berdampak pada kesejahteraan masyarakay Pecatu yang semakin meningkat. Memang belum ada data valid mengenai pendapatan per kapita warga Pecatu. Namun diperkirakan pendapatan per kapita masyarakat Pecatu kini mencapai Rp60.000.000 per tahun atau Rp5.000.000 per bulan. Pendapatan ini merupakan terbilang tinggi untuk ukuran Bali.
Itu sebabnya , kini Pecatu tak lagi mendapat julukan sebagai bukit kapur yang kering kerontang tetapi sudah berubah menjadi “Bukit Dolar”. Pecatu pun kini menapak pada puncak kesejahteraan yang dipicu dan dipacu oleh perkembangan industri pariwisata. Pecatu telah tumbuh sebagai mutiara baru dari kaki Pulau Bali.
Secara demografis, Desa Adat Pecatu tergolong cukup padat. Jumlah krama Desa Adat Pecatu tercatat 7.085 jiwa atau 1936 kepala keluarga dengan penduduk usia produktif yakni sekitar 74.5%. Tingkat pendidikan masyarakat Desa Pecatu kini juga semakin meningkat. Jika sebelumnya sebagian besar masih berpendidikan Sekolah Dasar (SD), sebagian kecil SMP dan SMA, serta sebagian kecil lagi berpendidikan sarjana atau pascasarjana. Kini jumlah penduduk yang berpendidikan tinggi semakin meningkat.

Informasi SMS-LPD
Informasi LPD-CALL